Selasa, 22 Maret 2016

Jempol untuk Gunung Kidul

Nah kali ini mau review perjalanan ke Kidul..

Seneng banget bisa liburan di Kidul yg ternyata punya banyak tempat kece.. gw sarankan kesananya jangan pas libur bersama, yang ada malah ngga bisa kemana. Ini berlaku siy untuk liburan kemana pun hehee.

Diawali dgn kereta ekonomi Jkt (St. Ps. Senen)  – Jogja malam tanggal 10 September 2015. Kereta ekonomi andelan bagi para pelancong murah meriah. Gw dan temen2 berangkat kereta ekonomi paling malem dan sampai di Jogja (St. Lempuyangan) pagi hari. Yap inilah hasil liburan kami selama 3 hari di Jogja. Ini bbrp tempat yg gw datengin:

1. Goa Rancang dan Kali Suci (Cave Tubing)

Disini kita bisa body rafting menggunakan ban, melewati arus sungai dan 2 goa besar. Air sungai di Kali Suci sangat jernih, saat memasuki goa, akan terdapat byk kalelawar yg bergelantungan diatas goa. Namun sepanjang perjalanan kita ditemani oleh bbrp guide profesional, kami pun ditemani 3 guide. At least perjalanan dari awal sampai ending di Kali Suci sangat fun. So far aman dan sangat menyenangkan.

Menurut cerita disebut Kali Suci karena di Kali Suci terdapat mata air yang terletak disebelah atas aliran sungai yang airnya sangat jernih dan tetap jernih meskipun air sungai keruh ketika musim hujan. Sumber mata air ini dulunya merupakan satu-satunya sumber kehiduoan masyarakat sekitar untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari, baik untuk minum, mandi, cuci dan lain-lain. Tanpa dimasak, air dari sumber air Kali Suci bisa langsung di minum tanpa takut akan sakit, karena sumber air tersebut belum tercemar limbah apapun. Bahkan sumber mata air Kali Suci dipercaya bisa menyembuhkan penyakit walaupun belum pernah diuji kebenaran cerita tersebut. awalnya agak takut karena masuk main air sambil masuk goa, tapi lama-lama cukup terpesona dengan tempat ini, dan pastinya  masih didampingi oleh para guide yg sudah ahli dibidangnya. Dan trust me, air disini bening sekaliii.

Satu Rombongan Dengan Pelancong dari US

Kali Suci

 Kali Suci

Kali Suci

Kali Suci

Kali Suci

Kali Suci

Kali Suci

Kali Suci

Kali Suci


Kali Suci

Kali Suci

Kali Suci

Kali Suci

2. Air Terjun Sri Gethuk

Nah setelah basah2an di Kali Suci, lanjutlah kita basah2an lagi di air terjun Sri Gethuk. Sebelumnya ke area Sri Gethuk, kami diantarkan ke area Goa Rancang. Katanya goa ini dulunya merupakan salah satu tempat pertapaan Sunan Kalijaga. Dan Sri Gethuk bikin gw jatuh cinta J

Goa Rancang

Gambar ini ada di dalam Goa Rancang

 Goa Rancang

Goa Rancang

Goa Rancang

Dan inilah Sri Gethuk itu yg bikin kita terpesonaaa..

Sri Gethuk

Di Kapal Menuju Air Terjun Sri Gethuk

 Di Kapal Menuju Air Terjun Sri Gethuk

Di Kapal Menuju Air Terjun Sri Gethuk


Berenang di Sri Gethuk

Berenang di Sri Gethuk

Berenang di Sri Gethuk

Loncat Terjun Bebas di Tebing Sungai Sri Gethuk Setinggi Kurang Lebih 6 Meter

Sri Gethuk

Sri Gethuk

Sri Gethuk

3. Pantai Wediombo dan Pantai Jungwok

Bukan rahasia lagi kalau Gunung Kidul punya banyak pantai cantik yg berderet sepanjang Kidul. Kalau mau ke arah pantai2nya, kita harus terus naik ke arah Kidul karena letaknya berada di deretan atas Gunung Kidul. Sebenarnya pantai Indrayanti atau pantai Baron adalah pantai yg cukup ramai. Nah kali ini kita coba ke deretan hampir paling pojok yaitu pantai Wediombo dan pantai Jungwok.

Sebenarnya di pantai Wediombo terdapat cekungan yg katanya aman untuk berenang, karena seperti yg kita tahu jika pantai di Kidul punya ombak yg cukup liar. Namun sayangnya kami tidak ke tempat itu.

Pantai Wediombo

Pantai Wediombo

Pantai Wediombo

Pantai Wediombo

Pantai Wediombo

Tangga Menuju Pantai Wediombo

Jajan Nasi Jagung, Pecel, dan Rujak

Jajan Nasi Jagung, Pecel, dan Rujak

Pantai Wediombo

Kalau dibawah ini pantai Jungwok. Mirip2 dengan Wediombo, Walaupun Wediombo bisa dibilang sepi, namun ternyata di Jungwok jauuuuh lebih sepi bahkan pedagang hanya ada 1 pedagang di pantai tsb. Dengan berbekal nasi jagung, pecel dan rujak yg kami beli di Wediombo, kami pun makan siang di Jungwok dengan bekal tsb dan tak lupa menyewa tikar duduk2 dibawah pohon dipinggir pantai Jungwok.

Pantai Jungwok

Pantai Jungwok

Pantai Jungwok

Pantai Jungwok

Pantai Jungwok

4. Goa Pindul

Mirip dengan Kali Suci, dimana Goa Pindul adalah wisata cave tubing. Sama serunya seperti di Kali Suci, namun sayangnya di Pindul airnya tidak sebening di Kali Suci.

Sungai Oya Goa Pindul

Sungai Oya Goa Pindul

Sungai Oya Goa Pindul

Sungai Oya Goa Pindul

Sungai Oya Goa Pindul

Sungai Oya Goa Pindul

Loncat Terjun Bebas di Tebing Sungai Oya Goa Pindul Setinggi Kurang Lebih 8 Meter

Pulang dari Goa Pindul

5. Penginapan Joglo Samiaji

Joglo Samiaji adalah tempat penginapan yg kami pilih selama tinggal di Kidul. Letaknya di Wonosari: 
    Address: Jl. Sumarwi, Gang Mayang RT06/RW12, Gadungsari, Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta
    Phone:(0274) 391222
Yg menarik adalah tempatnya yg bersih, asri dan murah meriah. Rp. 100.000,- / hari / kamar. Satu kamar bisa diisi oleh 2 orang. Joglo Samiaji sangat kami rekomendasikan untuk tinggal di Kidul dan kira2 beginilah penampakan dari Joglo Samiaji:


Joglo Samiaji

Joglo Samiaji

Joglo Samiaji

Joglo Samiaji

Joglo Samiaji

DPRD Gn. Kidul (Penting Banget ya Poto Disini LOL)

Ini Jagoan Kita. Nunung Si Jagoan Stir Mobil 

Sunset di Kidul

Iseng Beli Buah

Nah ini Kami selama Perjalanan (Asty, Enung, Maia, Rini, Willy)

Kuliner adalah salah satu kegiatan yg tak boleh dilewatkan, yg seru adalah saat menemukan makanan unik, seperti steak tempe + penyajian di hot plate sperti steak pada umumnya sampai pecel ayam yg ukuran ayamnya besar2 atau saat kami menemukan sebuah outlet yg menjual french fries dan burger dengan tampilan gambar sebagus Mc D namun saat penyajian cuma berisi remahan2 ala kadarnya :)) Dan yg paling berkesan adalah saat lesehan sambil rumpi ngobrol2 lucu ditemani teman2 yg baik, teh poci dan iringan musik tradisional ^^ Namun sayangnya kami melewatkan makanan khas Jogja, gudeg dan kreceknya hiks2.

Steak Tempe

Tenda Steak

Pecel Ayam yg Ayamnya Besar2

Hiburan Malam Minggu

Hiburan Malam Minggu

Teh Poci

Lesehan

Iseng Poto di Jalan Gn. Kidul

5. Kalibiru

Kalibiru salah satu tempat hits di Kulon Progo. Karena penasaran, mampirlah kami kesana. So far tempat ini bagus untuk.. poto2.. heee cheers. Sebenarnya Kalibiru adalah sebuah waduk buatan, namun karena keindahannya jika dilihat dari atas dan seolah2 berwana biru, maka jadilah tempat ini dinamakan Kalibiru.

Kalibiru

Kalibiru

Lesehan di Kalibiru

Nah ini Perjuangan Untuk Poto Diatas Rumah Pohon Kalibiru 

Kalibiru

Kalibiru

Jalan Menuju Rumah Pohon di Kalibiru

Kalibiru

Kalibiru

Dalam setiap perjalanan wisata ke suatu tempat, pastinya ada hal menarik untuk diceritakan. Seperti tempat wisata yg bagus dan tak terlupakan. Namun cerita terbaik adalah ketika kita selama dalam perjalanan sampai dengan pulang kembali ke rumah, ditemani oleh teman2 yg baik dan mengerti tanpa perlu ada rasa jaim untuk bebas tampil apa adanya.

Penampakan Repotnya Kami Mengejar Bis Arah Jakarta yg Hampir Meninggalkan Kami :)


Beli Oleh2 Sampai Berdus2 ^^

Sempatkan Bertemu Teman Lama di Jogja

Sempatkan Bertemu Saudara2 di Jogja, Silaturahmi

Okelah segini saja upload dan berbagi sedikit kebahagiaan selama di Gn. Kidul. Yg terpenting  dalam setiap perjalanan adalah teman2 yg baik hati dan dengan sangat bebas kita bisa menjadi diri sendiri tanpa rasa jaim dan malu. Bahagia itu sederhana, bro. Sampai bertemu di perjalanan yg lebih jauh lagi.. cheers.





Rabu, 29 Juli 2015

Alun – Alun Kota Bandung dan Tangkuban Perahu, Jawa Barat

Jalan – Jalan Bandung (Part 2)

Nah lanjut setelah dari Taman Batu dan Guha Pawon (Re: Jalan - Jalan Bandung Part 1), lanjutlah di hari yg sama, kami ke alun - alun Bandung. Sudah beberapa tahun ini ngga ke tengah kota Bandung, dan ternyata wooow alun - alun Bandung sekarang kece banget, apalagi di waktu malam hari. Alun - alunnya ramee, banyak keluarga dan anak - anak bermain disana. Yg unik dari alun - alun ini adalah rumputnya yg terbuat dari rumput sintesis, jadi jika ingin bermain diatas rumput harus melepas alas kaki terlebih dahulu (udah kya mau masuk masuk masjid ya). Banyak anak - anak yg bermain lempar gasing berwarna ungu disana. Masjid Raya kota Bandung pun besar sekali, namun terlihat tidak mengerikan seperti masjid besar pada umumnya dan terasa nyaman jika berada di dalamnya. 

Alun - Alun Kota Bandung

Alun - Alun Kota Bandung

Masjid Raya Kota Bandung dan Alun - Alunnya

Menara Masjid Raya Kota Bandung

Menara Masjid Raya Kota Bandung

Masjid Raya Kota Bandung

Di halte alun - alun kota Bandung pun tidak seperti halte pada umumnya. Bangku - bangku halte tersebut berbentuk huruf - huruf yg disambung dan bertuliskan "ALUN ALUN BANDUNG". Intinya alun - alun Bandung KECE abiiiis :))

Halte Alun  Alun Kota Bandung

Dan keesokkan harinya, pagi - pagi kami lanjut ke Tangkuban Perahu. Terakhir kesana itu sewaktu masih SD heuheuuu. Tangkuban buka mulai pukul 7 pagi, dengan biaya sebesar Rp. 15.000 / orang untuk wisatawan lokal.

Tiket Masuk Tangkuban Perahu

Untuk menuju Tangkuban dari Bandung, kami naik angkot ke arah Lembang. Jadi dari St. Bandung naik angkot yg kearah Lembang dengan biaya Rp. 10.000 / orang. Kemudian turun di pasar Lembang dan lanjut naik angkot kearah gerbang pintu masuk Tangkuban. Nah berhubung dari gerbang ke lokasi Tangkuban cukup jauh, maka kami pun menyewa angkot tersebut. Agak mahal sih biaya perorangnya, sekitar Rp. 35.000 / orang. Dan kira - kira seperti ini foto - foto di Tangkuban:

Kawah Tangkuban Perahu 


Kawah Tangkuban Perahu 

Kawah Tangkuban Perahu 

Pagar yg Mengelilingi Tangkuban Perahu

Kawah Tangkuban Perahu

Kawah Tangkuban Perahu (Bisa Pre Wed lho ^^)

Gunung Tangkuban Perahu

Kondisi Tangkuban sekarang memang jauh berbeda dengan 10 tahun yg lalu, terlihat dari sudah dipagar secara permanen dan bukan dari bambu biasa lagi. Oiya sebelum ke Tangkuban, ada baiknya baca cerita rakyat tentang Tangkuban dan Sangkuriang yg terkenal itu agar dapat menambah pengetahuan akan cerita rakyat dari negeri sendiri.


Selama di Bandung, kami menginap di salah satu hostel di Bandung. Letaknya dekat st. Bandung, sekitar 10 menit dari stasiun. Memang kami sengaja memilih penginapan dekat dengan stasiun. Hostel cukup mumer, bersih dan nyaman. Nama hostelnya Hunny Hostel, beralamat di Komplek Pascal Hyper Square Blok C No. 28, Bandung. Jadi kalau dari pintu keluar st. Bandung, ambil arah ke kiri sampai ketemu pertigaan, dan lanjut ambil ke kiri lagi dan tidak jauh dari sana, disebelah kanan jalan ada Komplek Pascal Hyper Square tersebut.

Hostel tersebut memiliki 2 buah room, 1 untuk laki - laki dan 1 untuk perempuan. Masing room terdiri dari kira - kira 7 sampai 8 bed. Biaya per malamnya Rp. 100.000 / orang. Karena hostel, ya tidurnya berbarengan gitu, dengan orang lokal maupun dengan orang asing. Hostel yg cukup nyaman untuk ditinggali. Pemilik hostel bernama Pak Michael dan keluarganya. Setiap pagi free breakfast roti tawar dan minuman kopi / teh. Nomor kontak Hunny hostel 022 - 86060701 / 0858 - 6184 - 8058.

Hunny Hostel Bandung

Kalau ke Bandung jangan lupa untuk berkuliner makanan khas Bandung seperti mie kocok. Atau bisa ke pasar Kosambi untuk membeli oleh - oleh cemilan, dan bisa mampir ke factory outlet / distro yg ada di Jl Riau atau Jl. Dago.

Mie Kocok Bandung

Selamat jalan - jalan di Bandung kawan. Hari ini Bandung semakin kece J

Senin, 27 Juli 2015

Taman Bebatuan Bak Zaman Flinstone - Taman Batu / Stone Garden dan Guha Pawon, Padalarang Jawa Barat

Jalan – Jalan Bandung (Part 1)

Sharing tentang pengalamanku ke Taman Batu atau dalam bahasa Inggris yg hits itu disebut Stone Garden. Jadi awalnya penasaran banget dengan ini tempat, memang akhir2 ini ada bbrp tempat wisata yg baru terekspose bermunculan di Bandung dan jadi pembicaraan banyak orang, diantaranya Stone Garden. Mulailah browsing2, setelah komplit info yg didapat, segeralah ditanggal merah itu aku dan temenku cuuus untuk booked tiket kereta api, tepatnya 2 - 4 Mei 2015.

Berangkat tanggal 2 Mei 2015, dari Jakarta - Bandung untuk kereta yg paling malam. Harga tiket Rp. 90.000 / orang (harga tiket paling murah untuk ke Bandung). Perkiraan jam 11 sudah sampai Bandung, namun berhubung ada kerusuhan di salah satu rel di Cipinang, jadi delay bbrp jam. Kami sampai Bandung sekitar jam 1 pagi, dan langsung menuju hostel yg sudah kami booked sebelumnya. Kami memilih hostel yg dekat dengan St. Bandung, selain harganya cukup murah, aksesnya pun memudahkan kami kemana pun.

Besok pagi sekitar jam 9 pagi kami pun sudah bersiap berangkat ke Taman Batu. Awal perjalanan dimulai dari St. Bandung. Di St. Bandung terdapat 2 pintu masuk yg letaknya berjauhan, untuk KA luar kota dan untuk KRD / KA lokal. Kedua pintu masuk tersebut masih dalam satu lokasi, namun tidak berdekatan. Jadi harus bertanya jelas terlebih dahulu kepada petugas, jika ingin naik KRD. Tujuan kami St. Padalarang, maka kami menuju pintu masuk KRD. Harga tiket Bandung - Padalarang Rp. 4.000 / orang, KA ekonomi dan perjalanan sekitar 45 menit untuk sampai di St. Padalarang.

St. Padalarang

Dari St. Padalarang, kami pun lanjut naik angkot rajamandala, angkotnya berwarna kuning, namun sebelumnya harus tanya ke supirnya dahulu apakah benar ini angkot ke Taman Batu atau tidak. Karena angkot warna kuning terdapat bbrp disana.

Lokasi Taman Batu berdekatan dengan Guha Pawon, cukup jalan kaki sekitar 15 menit. Jadi diantara 2 lokasi tsb sudah dihubungkan dengan jalan setapak yg berbatu dan sudah cukup baik untuk dilalui.

Banyak yg bilang lebih baik ke Guha Pawon baru setelah itu lanjut ke Taman Batu. Nanti bilang saja ke supirnya, tolong antarkan sampai ke pertigaan Guha Pawon, dan lanjut naik ojek sekitar Rp. 5.000 / orang untuk ke Guha Pawon. Namun berhubung angkutan umum yg kami tumpangi banyak berisikan penumpang yg ingin ke Taman Batu, maka supir pun bersedia mengantarkan sampai ke depan gerbang Taman Batu dengan biaya Rp. 10.000 / orang.

Sesampainya disana, kami pun langsung naik menanjak ke lokasi Taman Batu. Dibawah juga disediakan parkiran mobil dan motor yg cukup luas, dan terdapat bbrp warung2 kecil di pinggirannya. Sebagian  besar adalah penjual mie rebus / goreng. Tiket masuk lokasi Taman Batu sebesar Rp. 3.000 / orang. Dan tidak sampai 5 menit dari loket, maka sampailah kami di bukit Taman Batu. Bukit taman berbatu nan luas dengan hamparan batu2 kecil sampai seukuran rumah bak zaman flinstone terhampar dimana - mana. Banyak orang yang berfoto disana sini, jika kesana pada musim panas, disarankan membawa payung / memakai topi karena tidak ada pepohonan disana J

Taman batu dikelilingi oleh bukit - bukit lainnya. Ada beberapa bukit yang dikeruk tanah atau batunya, dan tampak jika dilihat dari atas taman batu. Tapi secara keseluruhan, pemandangan perbukitan tersebut indah sekali dilihat dari taman batu.

Taman Batu

Taman Batu

Taman Batu

Taman Batu

Taman Batu

Taman Batu (Ketika Menuruni Taman Batu untuk Keluar dari Taman Batu)

Taman Batu (Tampak Parkiran Mobil dan Motor dari atas Taman Batu)

Perjalanan pun lanjut ke Guha Pawon yang lokasinya berdekatan dengan Taman Batu. Jika berjalanan kaki, hanya dibutuhkan waktu sekitar 15 menit. Dari Taman Batu ke Guha Pawon sudah dibuatkan jalan setapak berbatu. Posisi Guha Pawon berada di bawah Taman Batu, maka kita akan menuruni jalan setapak tersebut untuk mencapai lokasi Guha Pawon. Namun berhubung saya dan teman saya sedang malas berjalan kaki :D Kita pun melanjutkan dengan naik ojek Rp. 10.000 / orang. Biaya masuk Guha Pawon sebesar Rp. 5.500 / orang. Sebelum masuk ke dalam Guha, kami pun menyewa 1 guide dengan upah sukarela karena kami takut tersasar di dalam Guha. Mereka standby persis di depan Guha dan menawarkan jasa guide.

Guha Pawon konon katanya adalah dapurnya Dayang Sumbi. Pawon pun sendiri artinya dapur.

Gerbang Masuk Guha Pawon

Jalan Setapak dari Taman Batu Menuju Guha Pawon atau Sebaliknya

Banyak monyet yang akan kita jumpai dari gerbang pintu masuk ke arah Guha Pawon.

Monyet Guha Pawon

Pintu Masuk Guha Pawon

Tempat Fav untuk Foto

Di dalam Guha Pawon terdapat miniatur makam, yang katanya dulu pernah ditemukan tengkorak manusia. Guha Pawon terdapat 3 jendela, jendela tersebut berbentuk lubang mirip jendela.

Jendela 1

Jendela 2

Jendela 3

Guha Pawon

Taman Batu dan Guha Pawon

Taman Batu dan Guha Pawon

Nah dari Guha Pawon pun kita naik ojek lagi Rp. 5.000 / orang, untuk menuju ke jalan raya. Lanjut pulang ke Bandung lagi via KRD dari St. Padalarang. Perjalanan ke stasiun dengan menggunakan angkot yang sama saat berangkat. Kondisi perjalanan pulang lumayan macet, oiya sebelum ke Padalarang lebih baik cek jadwal kereta KRD tersebut. Kami pun kembali ke hotel dan bersih - bersih badan sebentar untuk bersiap jalan - jalan ke kota Bandung, yeiiiiyy J J J

Overall, perjalanan ke Taman Batu dan Guha Pawon menyenangkan, sekaligus mengetahui tempat wisata yang ada di Jawa Barat. 



Selasa, 16 Juli 2013

The Power of Silaturahmi

Ramadhan ya Ramadhan
Tegal – Pemalang, 8 Juli – 14 Juli 2013

Ini pengalaman baru buatku dan adikku satu – satunya untuk pertama kalinya berpuasa di kampung bersama nenek di Tegal, desa Randugunting. Biasanya kami berkumpul ketika di hari raya Idul Fitri, tapi entah kenapa tahun ini rasanya ingin sekali merasakan puasa bersama saudara – saudara yang ada di kampung. Di Tegal adalah keluarga besar dari papahku. Karena kami mengikuti pemerintah, maka puasa tahun 2013 ini kami melaksanakannya pada hari rabu tanggal 10 Juli 2013.

Kami pun berangkat dari stasiun Pasar Senen dengan menggunakan kereta Mathamarja jurusan Malang yang melewati dan berhenti di stasiun Tegal. Kereta ekonomi ac ini berangkat siang sekitar pukul 13.40 WIB dengan harga tiket yang sudah naik sekitar Rp. 130.000,00 / orang.

Selain berpuasa di hari pertama dan pertama kalinya bersama nenek, aku dan adikku juga melaksanakan teraweh pertama kalinya disana. Sebenarnya nenekku sudah jarang sekali ke masjid dikarenakan kakinya yang sudah tidak kuat berjalan dan berdiri lama, tapi malam itu beliau seperti terlihat kuat, mungkin juga karena ingin merasakan pergi teraweh ke masjid bersama cucu – cucunya.

Nenekku

Kami pun solat di masjid yang lokasinya masih di dekat rumah. Kami terbiasa dengan solat teraweh yang rakaatnya berjumlah 11 rakaat, tapi disana berjumlah 23 rakaat. Sebenarnya sama saja 11 atau 23 rakaat, yang penting adalah niatnya. Kalau dari waktu selesai, hampir tidak ada bedanya karena 23 rakaat ternyata tidak memakan waktu yang lama dikarenakan pembacaan surat dalam setiap rakaat yang cepat dan pembacaan surat pilihan yang ayatnya tidak terlalu panjang. Solat teraweh 23 rakaat disana terasa seperti sedang marathon hehee, karena solatnya terasa cepat sekali. Nenekku juga melaksanakan solat teraweh sampai selesai. Hebatnya nenekku.. semoga sehat selalu ya nek..

Sahur pertama di rumah nenek dan bersama saudara – saudara disana tersana menyenangkan, kami sahur dengan memakan masakan rumah seadanya tapi terasa mewah. Mungkin karena kebersamaan maka rasa makanan pun terasa nikmat Tak lupa kami menyantap makanan khas Tegal, salah satunya adalah soto tauco. Soto enak yang hanya ada di Tegal. Dan yang paling terkenal adalah warung yang berlokasi di gang senggol belakang kantor polisi, di dekat alun - alun.

Soto Tauco Khas Tegal

Di hari ketiga kami disana, aku pun memutuskan melanjutkan perjalanan ke kota Pemalang untuk silaturahmi dengan keluarga dari mamahku disana dan nyekar. Tapi perjalan ini diteruskan tanpa adikku dikarenakan adikku sudah harus masuk kerja di keesokan harinya. Dengan menggunakan bis 3 / 4 jurusan Tegal – Pemalang, aku pun meneruskan kakiku untuk bersilaturahmi. Ongkos bis ini sekitar Rp. 8.000,00. / orang.

Sampai di Pemalang, tepatnya di desa Cibelok, yang terlintas dalam benakku adalah “wah kota ini terasa agak ramai, atau mungkin yang sedang silaturahmi dengan keluarga yang ada di Pemalang sudah pada mudik ya seperti aku ini hehee”. Aku menginap selama 4 hari 3 malam disana. Tinggal di rumah peninggalan ibu dan bapak dari mamahku. Rumah tua dan lugu. Kami anak cucunya menyebutnya rumah lugu. Rumah ini tidak ada yang menempati, tapi dari mulai bulan ini sampai seterusnya, mungkin akan ada bude dan padeku yang akan tinggal disini dikarenakan mereka ingin menghabiskan masa tuanya di kampung.

Rumah Lugu

Aku sepintas membayangkan ke jaman dulu, sewaktu nenek dan kakekku masih hidup dan tinggal bersama ke 10 anaknya, wah pasti rumah ini ramai sekali pada masanya. Pasti seru sekali suasana rumah ini pada waktu itu. Sewaktu semua penghuni masih hidup. Sering kali mamahku almarhum bercerita tentang masa kecilnya. Ya, mamahku anak terakhir dari 10 bersaudara. Bercerita bagaimana pada waktu itu ketika bulan puasa tiba, maka sehabis teraweh akan ada banyak anak – anak kecil yang bermain diluar dengan tidak menggunakan listrik, karena pada waktu itu listrik belum masuk desa ini. Apalagi ketika sedang terang bulan, wah halaman rumah akan menjadi area bermain anak di tengah padang bulan. Permainannya pun masih sangat tradisional diantaranya seperti lompat karet, congklak, cublak – cublak suweng, kelereng dan gobak sodor. Semua permainan aktif menggerakkan badan banyak dilakukan di masa itu. Pastinya berbanding jauh dengan anak jaman sekarang, era millenium yang serba tekhnologi. Rata – rata anak kecil hanya asik bermain di depan video game.

Senang sekali bisa berada di tempat ini pada bulan puasa, dan ini juga pengalaman pertama kalinya buatku berpuasa disini. Selama ini aku dan keluargaku pulang ke tempat ini juga hanya pada waktu setelah Idul Fitri.

Melaksanakan solat teraweh bersama penduduk Pemalang juga hal yang baru dan berkesan buatku. Berangkat naik sepeda menyusuri jalan ini untuk sampai ke masjid. Entah mengapa ada perasaan haru saat mengayuh sepeda menuju masjid.

Dan tak terduga, aku bersebelahan dengan teman mamahku sewaktu kecil. Awalnya beliau bertanya aku tinggal dimana, setelah aku beri penjelasan, beliau terlihat kaget, senang dan terharu karena bertemu dengan anak almarhum temannya.

Masjid di Desa Cibelok

Lalu hari berikutnya disana, aku bersilaturahmi mengunjungi saudara – saudaraku yang berada di Pemalang, dan nyekar ke makam keluarga. Disana juga ada makam mamahku. Melihat makan mamah, nenek, kakak, pade, bude dan saudara – saudaraku yang telah mendahului, ada perasaan yang mengingatkanku akan hal – hal baik yang telah mereka lakukan. Terlintas bayangan wajah mereka satu persatu, "ah Tuhan, tolong jaga mereka di sisi Mu". Jika memang ada reinkarnasi, kembalikan mereka ke keluarga kami lagi, wallahuallam.


Hari berikutnya lagi, aku pun bermain ke pasar malam bersama kakak sepupu dan keponakanku. Seru sekaliii.. sudah lama rasanya tidak bermain yang asik dan murah meriah. Jadi ingat masa kecilku sewaktu lapangan bola didekat rumahku belum dijadikan perumahan. Disana dulu sering diadakan pasar malam. Permainan kincir angin, ombak bayur sampai rumah hantu.. murah meriah dan tidak kalah asiknya dengan dufan. Sayangnya sejak lapangan merah itu dijadikan perumahan, area bermain murah meriah dekat rumahku pun semakin sempit.

Loket

Pasar Malam
  
Kincir Angin ala Pasar Malam

Serunya Ombak Bayur

Serius Mancing

Horeee

Area sederhana namun cukup menghibur penduduk desa ini. Semua anak – anak terlihat senang sekali bermain disini, termasuk keponakan – keponakan kecilku.

Bermain sepeda bersama keponakan sehabis solat subuh juga sesuatu yang menyenangkan. Mengelilingi kampung sampai melihat matahari terbit.. Satu yang terucap, “terima kasih Tuhan”.

Pagi dan Sepeda

Pagi dan Sawah

Malam minggu kami menghabiskan waktu dirumah saja karena sedang hujan besar. Lalu kami menghabiskan malam dengan berkaraoke ria.. 

Keesokannya aku pun bersiap kembali pulang ke Depok, semoga next time aku akan lebih lama lagi menikmati hari – hari disini. Harga tiket kereta ke Gambir / Jatinegara dengan menggunakan Senja Utama juga sudah naik, biaya sekitar Rp. 235.000,00 / orang untuk kelas bisnis, padahal biasanya harganya masih 150 ribuan rupiah. Mungkin karena suasana mau lebaran dan sedang weekend pula. Tapi harga tiket mahal tergantikan dengan rasa silaturahmi yang tinggi. Nikmatnya silaturahmi, kalau ada the power of kepepet, maka the power of silaturahmi juga seharusnya ada, karena setelah pulang dari silaturahmi kemarin, aku mendapat panggilan kerja di beberapa tempat.

Stasiun Pemalang

"Kata orang bijak silaturahmi itu dapat memperpanjang umur, yuk silaturahmi. Dengan tetangga, saudara atau siapapun itu, gunakan semangat silaturahmi maka langkah hidup akan terasa ringan"

Salam.