Selasa, 08 Januari 2013

Jelajah Toba, Samosir, Desa Janjimarapot dan Segala Kebaikan Khas Batak

Toba, Samosir, Desa Janjimarapot – Sumatera Utara, 29 Desember 2012 – 7 Januari 2013.

Sudah lama sekali ingin lihat danau Toba secara langsung, alhamdulilla keinginan itu tercapai. Yap tanggal 29 desember 2012 aku pun memulai perjalanan itu. Awalnya diajak teman yang berasal dari kampung dipinggir Toba, namanya desa Janjimarapot. Aku pun langsung mengiyakan ketika diajak temanku pulkam akhir desember 2012 bersama keluarganya, karena memang temanku akan merayakan natal dan tahun baru dengan orang tua dan keluarga besarnya disana.


Dan tanggal 29 desember pun kami bersiap berangkat. Awalnya kami ketinggalan pesawat, sebenarnya sih bukan ketinggalan, tapi check in barang ditutup sekitar 45 menit sebelum keberangkatan. Jadwal pesawat 05.30 WIB. Kami sampai bandara SoeTa sekitar 40 menit sebelumnya (kurang lebih 04.50 WIB), nyaris!! Dan lebih tragisnya lagi petugas bandara tidak mau membantu kami karena alasan peraturan, okelah akhirnya kami membeli lagi tiket penerbangan dengan menggunakan jasa penerbangan lain (karena agak trauma). Pesawat sekitar jam 16.00 WIB dan kami sampai bandara SoeTa satu setengah jam sebelumnya (alasan trauma lagi :p).


Sampai bandara Polonia Medan ontime dan kami pun dijemput dengan travel yang sudah kami pesan sebelumnya, karena rombongan kami banyak sekitar 8 orang. Perjalanan untuk sampai ke tempat tujuan sekitar 7 jam. Lama kelamaan perjalanan semakin jauh dan hanya berupa jalan naik turun yang kanan kirinya terdapat tebing dan jurang. Gelap, dan hanya ada cahaya dari lampu mobil. Sekitar jam 04.00 WIB subuh kami sampai di tujuan. Wah, pertama kali napak didepan rumah orang tuanya temanku, hanya ada satu kata, Dingiiinn!!


Karena masih sangat pagi, maka kami langsung istirahat tidur setelah ketemu bersalaman dengan kedua opung, dan bangun pagi sekitar jam 8 pagi. Waktu masuk kamar mandi, ada satu jendela kayu yang dapat dibuka dan ketika aku buka.. WAW pemandangan bukit hijau dan disebelahnya seperti danau... dan sepertinya itu danau Toba. Oke danau Toba ada persis dibelakang rumah ini. Air di kamar mandi pun brrr!! dingin dahsyat.


Setelah bersih - bersih badan, sarapan ikan kuah, aku pun lanjut lihat – lihat lingkungan sekeliling rumah. Dan.. benar – benar menakjubkan pemandangan disini.

 Rumah opung, desa Janjimarapot

Pemandangan dibelakang rumah opung 

Rumah opung dari belakang

Lanjut hari pertama, aku diajak jalan – jalan ke Samosir bersama dengan keluarganya temenku. Ternyata dari desa tersebut ada jembatan yang menghubungkan ke pulau Samosir. Dengan menggunakan mobil opung yang pastinya diiringi lagu – lagu Batak sepanjang perjalanan, aku pun masih takjub dengan semua yang mobil ini lewati, dari mulai jalanannya yang dikelilingi bukit – bukit, danau Toba, rumah – rumah adat, tugu – tugu kuburan yang berbentuk rumah, bunga – bunga liar berwarna kuning, sungai kecil, banyak kerbau, kambing, anjing dan babi berkeliaran.

Mobil opung parkir disebelah danau

Bukit dengan pohon – pohon berjejer rapih

Banyak bunga kuning liar

Tugu kuburan

 Tugu kuburan


Kepala kerbau lambang Batak


Banyak babi berkeliaran, hehehee


Hampir sebagian besar jalanan disana seperti ini


Dermaga Tomok Parsaoran, Samosir


Dermaga Tomok Parsaoran namanya, kami pun naik kapal nyebrang Toba ke dermaga di Parapat. Sebenarnya berniat ke festival danau Toba di Parapat, tapi ternyata festivalnya malam hari. Maka kami nyebrang ke Parapat hanya untuk makan siang dan kembali lagi ke dermaga Tomok di Samosir, dan pastinya aku masih takjub dengan apa yang aku lihat dari atas kapal ini.

Anak – anak penangkap uang koin dan uang kertas


Kapal perlahan menjauhi dermaga Tomok Parsaoran


Danau Toba


 Danau Toba

 Danau Toba


Danau Toba


Danau Toba


Danau Toba


Suasana didalam kapal

Mampir ke pasar Tomok untuk beli oleh – oleh dan belanja macam – macam baju dan pernak – pernik etnik khas Batak. Letaknya tidak jauh dari dermaga Tomok. Oya jika tidak ada keluarga atau teman yang tinggal di Samosir, disini banyak penginapan kecil seperti losmen.

Pasar Tomok

Ojek becak

Diajak ke acara kumpul keluarga Batak itu sesuatu banget, dan pengalaman pertama buat aku. Apalagi bisa ikut kebaktian di malam tahun baru itu sesuatu banget. Untuk pertama kalinya juga aku masuk gereja dan melihat prosesinya, tapi sayang dari mulai kitab dan segala doa pujiannya menggunakan bahasa Batak, jadi aku sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan.


Salah satu prosesi kebaktian di malam tahun baru


Gereja tampak di siang hari

Happy new year 2013 

Setelah perayaan malam tahun baru, ternyata ada ritual doa bareng di keluarga ini dan meminta maaf. Cukup terharu, dan agak sedikit mengerti karena dicampur bahasa Indonesia. Sebagian besar hobi keluarga Batak itu dimana – mana sama jika sudah kumpul, selain minum tuak, ya diisi dengan menyanyi bareng menggunakan gitar. Agak lucu sih karena baru kali ini melihat satu keluarga besar kumpul dan bernyanyi bareng dengan diiringi gitar. Tapi sekali lagi, semua lagunya adalah lagu Batak, jadi tidak bisa ikut karokean deh, padahal aku hobi karokean loooh hihihiiii :D  Oya satu lagi kegiatannya, bermain kartu. Dari yang tua sampai muda bermain kartu, dan pastinya ada uang taruhan :D

Ke acara nikahan Batak itu juga sesuatu banget, kalau di gedung mungkin sudah biasa, tapi ini benar - benar pesta adat. Aku mengikuti dari prosesi di gereja, sampai acara adat. Ada acara tor – tor bareng per keluarga besar laki – laki dan lanjut ke keluarga besar perempuan. Sambil dance tor – tor, mempelai pun ikut tor – tor bareng dan berputar menyalami semua keluarga besarnya yang sedang tampil.


Tor - tor

Setelah tor – tor ada semacam acara pemberkatan dari keluarga besar untuk memberi restu dan nasihat bagi mempelai tersebut. Kemudian lanjut dengan pembagian daging, dan pastinya dagingnya babi. Sebenarnya bisa juga kerbau atau sapi. Pembagian tersebut semacam simbol, jadi yang mendapatkan dagingnya yang di tua-kan di keluarga besar tersebut. Yang lucunya, daging babi tersebut masih berbentuk babi dengan buntutnya. Daging yang sudah dimasak tersebut, dipotong langsung dan dibagikan.

Pembagian daging

Salah satu daging yang dibagikan

Kemudian ada acara penyerahan uang, seperti mas kawin uang tunai dari pihak laki – laki ke pihak perempuan. Kemudian pihak perempuan membagikan uang receh (sekitar seribu rupiah) ke setiap anggota keluarga besarnya yang hadir, tapi pemberian diwakilkan oleh tiap – tiap kepala keluarganya. Hal ini juga mempunyai arti di keluarga Batak.

Prosesi pembagian uang

Dan yang paling seru adalah acara pemberian ulos ke mempelai. Memberikannya dengan cara menyampirkan ulos tersebut ke kedua bahu mempelai tersebut. Wah pengantin baru tersebut dapat banyak sekali ulos. Mungkin ratusan lebih.

Pemberian ulos ke mempelai

Pemberian ulos ke mempelai

Keesokannya aku diajak berputar lagi di sekitar rumah opung, waa ternyata aku diajak ke daerah atas, dimana disana padang rumput hijau yang luas, pemandangan belakang bukit dan depannya danau Toba.. seperti di film.

Jadi tempat ini disebut BBI (Balai Budidaya Ikan) Karena disini banyak ikan yang dibudidayakan. Ada satu SMK, namanya SMK harian yang ada di BBI. Dimana SMK ini dibagi tiga jurusan: perikanan, pertanian dan peternakan. 

Bukit dan sungai kecilnya

Ada sapi di padang rumput, bukit

Padang rumput dengan pemandangan Tobanya

Padang rumput

Padang rumput

Padang rumput

SMK Harian, di BBI

Ada masjid di tengah padang rumput

BBI, Balai Budidaya Ikan

Keesokkannya aku diajak ke acara kumpul keluarga Situmorang, yaitu marga dari ibunya opung boru temenku. Acara yang rame dan lama. Dari pagi sampai malam kami baru selesai. Yang paling seru adalah acara saweran. Sambil tor – tor, yang tua pun membagikan uang ke anak – anak yang ikut tor – tor.


Tor – tor anak – anak, acara keluarga

Rumah panggung khas Batak namanya bolon. Dan malamnya setelah dari acara tersebut, kami menginap dirumah salah satu saudaranya yang memang rumahnya masih rumah bolon. Dan sesuatu banget bisa menginap dirumah ini. Jadi ada 2 tingkat, dibawah terdapat ruang keluarga, kamar tidur, kamar mandi dan dapur. Naik ke tingkat 2, hanya ada tempat seperti panggung yang serbaguna dan luas. Kami pun tidur disini.

 Rumah bolon khas Batak

Keesokannya kami berangkat ke pasir putih. Jadi masih danau Toba juga tapi untuk area wisatanya. Rasanya seperti di pantai, bukan di danau. Kami pun main banana boat.



Main banana boat

Anak – anak bermain di Toba

Para pengunjung Toba sedang bermain

Setelah puas main di danau, kami lanjut ke pemandian air hangat. Dan sekali lagi, pemandangan Tobanya terlihat cantik sekali dari atas sini.

Pemandian air panas


Sore, di pemandian air panas

Menjelang malam, masih di pemandian air panas

Makanan khas daerah ini salah satunya adalah mi gomak. Mi nya seperti spagheti tapi kuah sayurnya seperti kuah lontong sayur. Selain itu ada ikan kuah dan sayur daun singkong. Di setiap acara yang aku datangi, pasti ada menu ini. Opung pun hampir setiap hari masakin menu ini untuk kami.

Mi Gomak

Banyak hal baru yang aku temukan. Tidak hanya tentang keindahan alam, tapi budaya adat istiadat dan hangatnya sebuah keluarga. Aku berharap semoga keindahan alam dan budaya tradisi Batak tetap terjaga oleh kita sebagai generasi penerus. Sebenarnya malu karena aku pun orang asli Jawa tapi tidak terlalu bisa bahasa Jawa. Harus belajar lebih dalam lagi sepertinya. Karena kalau bukan kita yang melestarikan budaya khususnya budaya dari ibu bapak kita, ya siapa lagi.

Suasana pagi, Gunung..?! (lupa  namanya :D)

Danau Toba, di siang hari

Sore, danau Toba

Menjelang malam


Pastinya bakalan kangen dan ingin bisa kembali kesini suatu hari nanti. 10 hari disana belum terlalu puas ternyata. Ikan kuah, sayur daun singkong, mi gomak, kembang goyang, Toba, bukit hijau, air dingin sewaktu mandi, logat Batak, lagu – lagu Batak, suara gitar dan nyanyian Bataknya ah semuanya deh. Disini juga tidak ada lampu merah loh. Dan oh ya durian. Hampir tiap hari juga kami makan durian. Disini Murah meriah dari 5 ribu – 15 ribuan.

Durian

Semoga keluarga besar opung selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Diberikan selalu kebaikan, kesehatan dan kerukunan. Amiiiin.

Opung doli dan opung boru

Next plan.. padaaaaang. 

Mari pulang.. sudah kangen rumah

"Because life is never flat if you travel around". Cheers

Sabtu, 21 Juli 2012

Dibalik Keindahan Tambak Udang, milik PT. Wachyuni Mandira (WM)

Lampung, 4 Juni - 8 Juni 2012.

Cuti kali ini berencana untuk pergi ke Sumatera. Dan Lampung pun jadi target liburan kali ini sekalian silaturahmi ke saudara sepupu yang ada disana. Tepatnya beralamat di kecamatan sungai menang, kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Sebenarnya daerah ini lebih dekat dengan Lampung daripada Sumatera Selatan. PT Wachyuni Mandira (WM) sebagai pengelola daerah tersebut dimana perusahaan ini bergerak dalam bidang usaha salah satunya adalah tambak udang. Di pulau ini yang katanya adalah pulau buatan, punya banyak tambak udang didalamnya. Dan suami sepupu saya merupakan salah satu pegawai dari perusahaan tersebut.
Perjalanan pun dimulai dari stasiun Gambir, dengan membeli tiket bis Damri Jakarta – Lampung seharga Rp. 115.000 untuk kelas bisnis, dan jam 10 malam  bis pun diberangkatkan menuju pelabuhan Merak terlebih dahulu. Tidak butuh waktu lama untuk sampai Merak, bis pun memasuki badan ferry. Didalam ferry kurang lebih memakan waktu hampir 3 jam untuk sampai pelabuhan Bakaheuni. Sampai di Bakaheuni, bis pun meluncur, tepatnya jam 7 pagi bis sampai di Bandar Lampung.
Terdapat 2 pul bis Damri di Bandar Lampung, yaitu di stasiun karang dan di dekat terminal Bandar Lampung. Saya pun memilih untuk turun di pul Damri yang berada di dekat terminal. Sampai disana perjalanan pun masih dilanjutkan dengan mencari travel untuk mengantarkan saya ke dermaga Rawajitu. Dengan bantuan sahabat sepupu saya maka saya pun diantarkan ke travel yang biasa mengantar penumpang ke daerah sana. Biaya travel Rp. 80.000.
Sekitar 8 penumpang di dalam mobil travel tersebut berangkat menuju dermaga Rawajitu sekitar jam 9 pagi. Perjalanan yang panjang kurang lebih 7 jam. Sewaktu perjalanan kesana, dari daerah kota disambung dengan melewati daerah perkampungan, melewati perkebunan kelapa sawit yang sangat luas dan akhirnya tidak ada pemandangan apa-apa hanya tanah merah pun kami lewati. Sekitar jam 5 sore mobil travel pun sampai di dermaga Rawajitu. Dermaga tersebut berada di ujung pasar daerah Rawajitu.
Perkebunan Kelapa Sawit

Hanya dengan berkendara speedboat, saya bisa ke lokasi PT. WM. Dengan membayar Rp. 50.000 per orang, perjalanan dengan menggunakan speedboat pun dimulai. Seperti ada di film Anaconda, benar-benar pengalaman baru. Awalnya terdapat banyak rumah dipinggir sungai tersebut tapi makin ketengah hanya ada pemandangan sungai tapi mirip seperti rawa, mungkin juga ada banyak buaya dipinggir muara tersebut.  
Kapal

Diperempat jalan saya dan rombongan pun wajib lapor ke security milik PT. WM, dimana semua orang yang keluar dan masuk PT. WM wajib lapor ke petugas. Perjalanan pun dilanjutkan lagi, suasana sore itu benar-benar membius saya ke dunia lain, tidak ada keramaian, hanya ada suara speedboat, suara burung camar, pemandangan rawa dan langit sore yang kejinggaan. Benar-benar daerah pedalaman.
Sekitar hampir 1 jam saya pun diantar ke kanal depan rumah sepupu saya. Jadi setiap beberapa rumah, terdapat kanal dimana ini merupakan tempat transit dari speedboat ke daratan. Daerah ini sebagian besarnya adalah para pegawai PT. WM. Mereka juga banyak yang membuka usaha seperti berjualan di pulau tersebut. Jadi sangat sedikit sekali orang yang tinggal disana tapi bukan pegawai yang bekerja untuk PT. WM. Dan rata-rata mereka membawa keluarganya untuk tinggal disana.
Kanal, Jembatan Kayu

Keesokan harinya saya pun diajak putar-putar daerah tersebut. Ternyata ini benar-benar seperti pulau kecil yang dikelilingi oleh air, antara rumah dan sungai dibuat jalan kendaraan yang hanya cukup untuk 2 arah baik sepeda atau motor. Jika saya berputar daerah ini maka tidak ada pemandangan lain selain air sungai disisinya. Yang lucunya disana banyak motor tapi tidak ada satu pun yang menggunakan kaca  spion, dan sudah pasti tidak ada polisi yang akan menilang para pengguna motor. Tidak ada mobil karena jalanannya saja hanya cukup untuk 2 motor.

Kondisi Jalanan
Terdapat beberapa TK, SD, SMP dan SMA. Katanya dulu pernah ada perguruan tinggi sekelas D3, tapi sudah ditiadakan karena tempat tersebut dijadikan tempat operasional perusahaan. Ada beberapa kumpulan toko (sekitar kurang dari 10 toko) yang menjual segala kebutuhan, dan oleh orang-orang disebut pasar J Yang lucunya lagi, setiap toko bisa dihutangkan, jadi para pembeli bisa membawa buku kecil dan menulis apa saja yang telah dibeli, maka pembayaran bisa ditanggungkan di minggu atau bulan depan. Tapi karena daerah tersebut cukup terpencil, maka kebutuhan akan sehari-hari pun cukup mahal. Disana rata-rata setiap rumah punya parabola karena jika tidak pasang, maka tidak akan mungkin mendapat channel stasiun tv.
Beberapa tempat disana salah satunya terdapat koperasi, kantor kepala desa, kantor karyawan, poliklinik, 3 tower provider, gudang makanan untuk udang yang ditambak, gudang speedboat, gudang listrik untuk penerangan daerah tersebut, gudang bensin, stasiun radio, lapangan bola, lapangan futsal, kantin untuk cari sarapan pagi, dan tempat beribadat untuk muslim, kristiani, budha dan hindu. Sesekali saya juga melihat kebun kecil seperti kol, bayam dan kangkung.  
Tempat untuk menambak udang oleh mereka disebut jalur. Ada banyak tambak udang disana, tapi jauh dari daerah pemukiman, dibatasi oleh jembatan diantaranya. Jika panen tiba dan kondisi cuaca sedang bagus, maka satu tambak bisa menghasilkan sekitar 3 ton udang. Proses panen memakan waktu seharian dan pengisian kembali tambak juga memakan waktu satu hari. Bibit udang sebelumnya diteliti terlebih dahulu dilab sebelum disebarkan ke tambak, jadi bibitnya juga merupakan bibit pilihan.
Sekali saya melihat proses panen udang, ada banyak pekerja disana, jadi ternyata tempat untuk menambak udang itu seperti empang tapi dibawahnya bukan tanah melainkan seperti terpal tebal yang diimport langsung dari Amerika. Awalnya jaring lebar direntangkan ke tambak, dan air disurutkan, setelah benar-benar surut maka para penambak memindahkan udang-udang tersebut ke keranjang besar. Udangnya berwarna putih bening, berkumis dan besar-besar. Terdapat ikan nila juga ditambak tersebut dan kondisinya juga besar dan terlihat sangat segar. Lalu segera dibawa ke tempat pendinginan agar tidak cepat busuk.
Para Penambak Udang
Keponakan Bersama Udang
Kesukaan saya sewaktu disana adalah bermain sepeda, melihat pagi dari atas jembatan, melihat pantulan sinar matahari yang memantul dari air sungai dan menikmati sore dari pinggir kanal. Jika malam disana sangat gelap dan agak menakutkan, terlebih jika hujan besar, dan lucunya lagi jika akan mati lampu maka akan ada sirine yang berbunyi ke segala penjuru yang menandakan bahwa akan mati lampu dan dimohon untuk bersiap lampu genset.
Tenangnya Pagi
Hening Siang Dan Kapalnya
Menikmati Senja Sore
Pussy Pun Terlihat Bersahabat Dengan Sore
Hampir Malam
Senang sekali dengan moment disana, apalagi bertepatan juga dengan pertandingan bola antar RT, ramai sekali dan bercampur logat antara Jawa dan Sumatera. Euforia 2 pulau pun menyatu jadi satu disana. Banyak orang Jawa disana sebanding dengan orang Sumatera. Anak-anak kecil disana bermain layaknya seperti anak-anak, ada yang bermain ayunan yang terbuat dari jaring, ada yang mencoba mengambil mangga, ada yang memetik bunga dan bermain sepeda. Melihat kebebasan mereka di masanya kanak-kanak mengingatkan saya akan senangnya saatnya menjadi kanak-kanak, tidak dengan bermain video game tapi menghabiskan waktu bermain ya dengan bermain :)
Pertandingan Bola
Disana saya seperti imigran yang bertemu dengan banyak latar belakang budaya. 5 hari disana merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan, seperti terhipnotis dari bisingnya kota, menikmati indahnya alam, budaya dan membuat saya menjadi lebih bersyukur akan hidup. Walaupun bekerja dan ditempatkan didaerah terpencil dan pedalaman, tapi saya rasa penduduk disana adalah orang-orang yang bisa “menikmati hidup”. Semoga para penduduk disana diberi sehat dan damai selalu.
Salam,
Semoga memberi inspirasi.